Sabtu, 24 Maret 2012

Rangkuman Pendidikan Kewarganegaraan Bab 1

Pendidikan Kewarganegaraan.

A. Latar belakang pendidikan kewarganegaraan.

     Dimulai dari sebelum hingga sesudah masa penjajahan, lalu masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan sudah menjadi catatan perjalanan panjang sejarah Indonesia dengan tuntutan yang berbeda pada setiap masanya.
     Semangat perjuangan telah ditunjukkan pada kemerdekaan 17 Agustus 1945. Selain itu  nilai nilai perjuangan bangsa masih relavan dalam memecahkan setiap permasalahan dalam masyarakat, berbangsa dan berwarganegara.
     Namun semua itu kini mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan oleh globalisasi. Disamping itu isu global yang meliputi demokratisasi, HAM, linggkunga hidup turut pula mempengaruhi keadaan nasional.
     Semangat perjuangan bangsa yang merupakan kekuatan mental dalam masa perjuangan fisik, sedangkan pada era globalisasi memerlukan perjuangan non fisik. Dan semua ini butuh wadah pendidikan bagi seluruh WNI khususnya bagi para mahasiswa para calon cendikiawan melalui Pendidikan Kewarganegaraan.

B. Kompetensi yang diharapkan
    
     Tujuan utama PKN adalah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara,sikap serta perilaku cinta tanah air.
     Selain itu juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang berbudi luhur, berkepribadian, kreatif, disiplin, professional, sehat jasmani dan rohani.

C. Pengertian dan pemahaman bangsa dan Negara.

     1. Teori terbentuknya Negara.
         - Teori hukum alam
         - Teori ketuhanan
         - Teori perjanjian

      2. Unsur Negara
          - Konstitutif
          - Deklaratif
     
      3. Bentuk Negara
          - Negara Kesatuan
          - Negara Serikat

D. Negara dan Warga Negara dalam system kenegaraan di Indonesia

     Sistem kenegaraan yang digunakan di Indonesia
1.      Proses bangsa yang menegara
2.      Pemahaman hak dan kewajiban warga Negara

E. Pemahaman tentang demokrasi

     1. Konsep demokrasi
         Sebuah bentuk kekuasaan ( Kratein ) dari, oleh dan untuk masyarakat ( demos )

2. Bentuk demokrasi dalam pengertian system pemerintahan Negara
    - Pemerintahan monarki
    - Pemerintahan republic

    Menurut Jhon Locke kekuasaan pemerintah Negara di bagi menjadi tiga bagian, yaitu : - Kekeusaan Legislatif
           - Kekuasaan Eksekutif
           - Kekuasaan Federatif

     Menurut Montesque, harus dibagi tiga badan atau orang yang berbeda satu dengan lainnya..Yaitu :
           - Kekuasaan Legislatif
           - Kekuasaan Eksekutif
           - Kekuasaan Yudikatif

3. Klasifikasi system pemerintahan
    Tiga system kepartaian
-         Multi Partai ( Polyparty system )
-         Dua Partai ( Biparty System )
-         Satu partai ( Monoparty System )

Empat model system pemerintahan Negara
-         Sistem dictator
-         Sistem pemerintahan parlementer
-         Sistem pemerintahan presidensial
-         Sistem pemerintahan campuran

F. Prinsip dasar pemerintahan Republik Indonesia

    Beberapa prinsip dasar system pemerintahan Indonesia yang terdapat dalam UUD 1945 adalah Indonesia Negara yang berazaskan hokum ( Rechstaat ) system konstitusi kekuasaan negara tertinggi di tangan MPR serta Presiden sebagai penyelanggara pemerintahan.

G. Pemahaman tentang Hak Azasi Manusia

     Didalam mukadimah deklrasi universal tentang HAM yang disetujui oleh resolusi , majelis umum PBB nomer 217 A ( III ) tanggal 10 Desember 1948.


H. Kerangka dasar kehidupan nasional meliputi keterkaitan antara falsafah pancasila,     UUD 1946, wawasan nusantara dan ketahanan nasional.
     1. Konsepsi hubungan antara pancasila dan bangsa
     2. Pancasila sebagai landasan ideal Negara.

I. Landasan hubungan uud 1945 dan Negara Jesatuan Republik Indonesia

1.      Pancasila sebagai ideology Negara
2.      UUD sebagai landasan konstitusi
Kemerdekaan Indonesia merupakan momentumyang sangat berharga dimana bangsa kita bias terlepas dari penjajahan, tetapi kemerdekaan ini bukan kemerdekaan NKRI karena :
-         Teks proklamasi menyatakan secara tegas bahwa yang merdeka adalah bangsa Indonesia, bukan Negara ( tidak memenuhi syarat Negara dalam hal ini tidakadanya pemerintahan )
-         Maka dibentuklah PPKI yang bertugas untuk membuat undang undang.Dan pada tangga 18 Agustus 1945 telah dibentuk UUD 1945 hingga secara resmi berdirilah NKRI.
3.      Implimentasi konsepsi UUD 1945 sebagai landasan konstitusi
- Pancasila          : Cita cita dan ideology Negara
- Penataan          : Supra infrastruktur politik Negara
- Ekonomi          : Peningkatan taraf hidup melalui pengusaan air dan bumi oleh Negara untuk kemakmuran bangsa.
    4.   Konsepsi pertama pancasila sebagai cita cita dan ideology Negara
          - Kemerdekaan adalah hak segala bangsa
          - Kehidupan berbangsa dan bernegara
          - Adanya masa depan yang harus diraih
          - Cita cita harup dicapai bangsa Indonesia melalui wadah NKRI

J. Perkembangan pendidikan pendahuluan bela Negara

1.      Situasi NKRI terbagi dalam periode periode.
Tahun 1945 sampai dengan 1965 disebut dengan orde lama. Ancaman yang dihadapi tidak hanya paham dari dalam juga dari luar. Dan pada tahun 1954 terbitlah Produk tentanga Undang Undang tentanga Pokok Pokok Perlawanan Rakyat ( PPPR ).
Tahun 1965 – 1998 disebut dengan orde baru.
Tahun 1998- sekarang disebut orde reformasi.

Minggu, 08 Januari 2012

Contoh Kota hemat Energi

Milton Keynes, Kota Satelit Hemat Energi

Milton Keynes tidak pernah usang diperdebatkan. Kota baru penuh kontroversi yang berada 72 kilometer barat daya London bukan nama asing bagi warga Inggris.
Struktur kota yang cenderung grid (kotak) sama sekali tidak mencerminkan bentuk kota Inggris umumnya yang cenderung radial atau organik. Dirancang belasan arsitek ternama, termasuk James Stirling, Richard Rogers, dan Norman Foster, sejumlah perancang kota, arsitek lanskap, dan insinyur, pada akhirnya morfologi Milton Keynes lebih menyerupai kota-kota di Amerika Serikat. Ini tidak disukai warga Inggris yang mencibir kota ini salah letak.
Bentuk memang mendominasi imajinasi keseluruhan. Meskipun morfologi Milton Keynes menyerupai banyak kota di Amerika, kota ini dirancang dengan konsep hemat energi.
Bila kota lain tumbuh dari proses perkembangan permukiman kecil menjadi besar dan akhirnya membentuk kota, Milton Keynes, tempat di mana Open University berada, benar-benar kota baru yang dibangun dari hamparan tanah kosong dan beberapa desa kecil yang dalam waktu relatif singkat disulap menjadi kota.
Meskipun demikian, perencanaan dan perancangan kota dilalui dengan proses panjang, dengan meramu ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan untuk mengakomodasi kebutuhan hidup generasi mendatang yang diperkirakan memiliki keterbatasan akses terhadap sumber daya energi.
Kota taman
Meskipun secara mendasar Milton Keynes masih malanjutkan konsep garden city Sir Ebenezer Howard, dalam banyak hal penyelesaian rancangan kota sudah menerapkan kaidah perencanaan modern, termasuk penghematan energi kota.
Seperti umumnya kota di Inggris yang berkonsep garden city, Milton Keynes juga dikelilingi kawasan hijau green belt yang befungsi menampung kegiatan manusia serta industri bersama-sama dengan mempertimbangkan segala aspek kehidupan manusia. Kota ini juga dirancang dalam skala yang memungkinkan warga saling bersosialisasi dan tidak ada lahan yang dikuasai perorangan.
Konsep utopia garden city Sir Ebenezer Howard memformulasikan kota mandiri dalam hal penyediaan kebutuhan kota. Kota harus mengakomodasi tumbuhnya industri dan pertanian. Hanya seperenam dari area kota disisihkan sebagai ”kawasan kota”, sisanya dipertahankan sebagai kawasan pertanian yang dirancang terintegrasi dengan kawasan kota.
Kawasan pertanian yang mengelilingi kota diharapkan dapat memasok seluruh kebutuhan pangan warga kota sehingga mengurangi beban transportasi angkutan makanan. Sebaliknya, seluruh sampah warga kota dapat memasok pupuk pertanian di sekeliling kota. Meskipun demikian, konsep ini tidak pernah terealisasi seluruhnya.
Konsep Howard tampaknya hanya mungkin diaplikasikan pada kota berskala kecil. Kota modern sulit mengadopsi konsep tersebut karena dimensi kota yang selalu membesar akibat berkembangnya aktivitas modern yang harus diakomodasi kota. Kota modern memerlukan berbagai bangunan dan infrastruktur.
Dengan dimensi yang besar, jarak tempuh warga ke kawasan tepi kota menjadi jauh dan bukan merupakan jarak tempuh pejalan kaki. Konsep garden city yang mengisyaratkan kawasan rural-tepian kota (countryside) sebagai bagian kehidupan warga kota menjadi sulit diwujudkan. Jarak pusat kota dengan tepian kota menjadi terlalu jauh.
Pemecahan tengah dalam penerapan garden city di London, misalnya, adalah memasukkan countryside ke dalam kota. Untuk itu diletakkan taman-taman di tengah kota yang dirancang sedemikian rupa menyerupai kawasan liar (wild life) di tengah kota.
Taman kota London berbeda dengan taman di banyak kota besar di dunia, seperti Monas Jakarta yang ditata dan dilindungi, di setiap sudut terpampang peringatan ”Jangan Menginjak Rumput”. Hyde Park, Regent’s Park, St James’s Park, dan lainnya di pusat kota London dirancang sehingga warga kota dapat merasakan kebebasan alam yang asri seakan mereka masuk ke dalam wilayah rural-tepi kota.
Konsep garden city Milton Keynes dipecahkan dengan cara berbeda. Kebutuhan taman alamiah di kawasan kota dijawab melalui area terbuka danau, sungai, dan kawasan hijau di beberapa lokasi di kota serta lapangan olahraga yang dirancang dan disebar di setiap unit hunian di seluruh kota.
Lapangan parkir juga dirancang dengan penanaman pohon sebanyak mungkin sehingga membentuk lingkungan hijau mirip taman. Sejuta pohon ditanam di sepanjang jalan raya kota untuk mengantisipasi karbon dioksida hasil buangan kendaraan bermotor di kota ini.
Hemat energi
Direncanakan dan mulai dibangun pada tahun 1967, kota hemat energi Milton Keynes menempati area sekitar 8.900 hektar dan dipersiapkan menampung sekitar 250.000 warga. Konsep dasar perencanaan Milton Keynes dititikberatkan pada pemecahan sirkulasi kendaraan bermotor.
Tidak seperti halnya kota satelit di seputar London, Milton Keynes menghindari pemusatan transportasi di bagian tertentu pusat kota. Dihindari munculnya ”jalan utama” kota seperti terjadi di hampir semua kota di dunia.
Jalan utama kota di mana pun cenderung menjadi pusat kegiatan dan pusat kemacetan kota. Jaringan jalan Milton Keynes dirangkai dengan pola grid berdimensi lebar untuk menghindari kemacetan. Jalan kota memiliki nilai dan karakter lebih kurang sama sehingga menghindari terjadinya konsentrasi kegiatan yang dapat menimbulkan konsentrasi lalu lintas dan akhirnya kemacetan.
Banyak kritik bermunculan menyatakan kota ini tidak memiliki karakter atau ciri khas. Kota dinilai hambar, tidak ada area penting sebagai pusat kota, tidak ada jalan utama kota sebagai pusat aktivitas warga sebagaimana umumnya kota lain di dunia. Semua tempat sama, senada, sewarna, dan semata-mata hanya untuk pemenuhan fungsi kota: efektivitas transportasi dan pergerakan manusia.
Pola jalan utama berbentuk grid dengan panjang sisi sekitar satu kilometer (km). Setiap grid akan dibagi menjadi grid-grid lebih kecil dengan lebar jalan lebih kecil, di mana grid kecil akan dibagi lagi menjadi grid lebih kecil sehingga dalam unit grid terkecil dimungkinkan warga berinteraksi sosial secara baik satu sama lain. Jalan kendaraan bermotor dipisah dengan jalur sepeda dan pejalan kaki.
Manusia dapat berjalan kaki atau bersepeda melintas kawasan pusat kota tanpa harus menyeberang jalan utama. Jalur pedestrian dan jalur sepeda diturunkan di bawah jalan ketika berpapasan dengan jalan raya sehingga tidak terjadi persilangan. Kota ini memiliki jalur pedestrian dan jalur sepeda sepanjang 250 km yang diberi warna merah, memungkinkan setiap warga berjalan kaki atau mengendarai sepeda ke setiap sudut kota dengan aman dan nyaman.
Dengan rancangan kota semacam ini, warga Milton Keynes didorong berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum, memungkinkan konsumsi energi kota dihemat signifikan.
Konsep penyediaan jalur pedestrian dan sepeda yang menerus di seluruh kota semacam Milton Keynes seharusnya dapat mengilhami perancangan kota Indonesia masa datang, paling tidak dalam rangka antisipasi kemacetan lalu lintas dan sekaligus penghematan energi kota.
PENULIS: Tri Harso Karyono Guru Besar Arsitektur Universitas Tarumanagara, Peneliti Utama di Balai Besar Teknologi Energi, Serpong.
 

Contoh Kota hemat Energi

Pengunjung

Content View Hits : 865711

Polling Warga Hijau

What's your opinion about the site content and design?
 

Didukung Oleh :

Visitors

Top 10:
Unknown flag 76%Unknown (422833)
Germany flag 4%Germany (19605)
Indonesia flag 2%Indonesia (13546)
Brazil flag 2%Brazil (9440)
Russian Federation flag 2%Russian Federation (8924)
Luxembourg flag 1%Luxembourg (7560)
Mexico flag 1%Mexico (6013)
Japan flag <1%Japan (5443)
Czech Republic flag <1%Czech Republic (5087)
Poland flag <1%Poland (4444)
555215 visits from 138 countries
Milton Keynes, Kota Satelit Hemat Energi
User Rating: / 5
PoorBest 
Green Community
Milton Keynes tidak pernah usang diperdebatkan. Kota baru penuh kontroversi yang berada 72 kilometer barat daya London bukan nama asing bagi warga Inggris.
Struktur kota yang cenderung grid (kotak) sama sekali tidak mencerminkan bentuk kota Inggris umumnya yang cenderung radial atau organik. Dirancang belasan arsitek ternama, termasuk James Stirling, Richard Rogers, dan Norman Foster, sejumlah perancang kota, arsitek lanskap, dan insinyur, pada akhirnya morfologi Milton Keynes lebih menyerupai kota-kota di Amerika Serikat. Ini tidak disukai warga Inggris yang mencibir kota ini salah letak.
Bentuk memang mendominasi imajinasi keseluruhan. Meskipun morfologi Milton Keynes menyerupai banyak kota di Amerika, kota ini dirancang dengan konsep hemat energi.
Bila kota lain tumbuh dari proses perkembangan permukiman kecil menjadi besar dan akhirnya membentuk kota, Milton Keynes, tempat di mana Open University berada, benar-benar kota baru yang dibangun dari hamparan tanah kosong dan beberapa desa kecil yang dalam waktu relatif singkat disulap menjadi kota.
Meskipun demikian, perencanaan dan perancangan kota dilalui dengan proses panjang, dengan meramu ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan untuk mengakomodasi kebutuhan hidup generasi mendatang yang diperkirakan memiliki keterbatasan akses terhadap sumber daya energi.
Kota taman
Meskipun secara mendasar Milton Keynes masih malanjutkan konsep garden city Sir Ebenezer Howard, dalam banyak hal penyelesaian rancangan kota sudah menerapkan kaidah perencanaan modern, termasuk penghematan energi kota.
Seperti umumnya kota di Inggris yang berkonsep garden city, Milton Keynes juga dikelilingi kawasan hijau green belt yang befungsi menampung kegiatan manusia serta industri bersama-sama dengan mempertimbangkan segala aspek kehidupan manusia. Kota ini juga dirancang dalam skala yang memungkinkan warga saling bersosialisasi dan tidak ada lahan yang dikuasai perorangan.
Konsep utopia garden city Sir Ebenezer Howard memformulasikan kota mandiri dalam hal penyediaan kebutuhan kota. Kota harus mengakomodasi tumbuhnya industri dan pertanian. Hanya seperenam dari area kota disisihkan sebagai ”kawasan kota”, sisanya dipertahankan sebagai kawasan pertanian yang dirancang terintegrasi dengan kawasan kota.
Kawasan pertanian yang mengelilingi kota diharapkan dapat memasok seluruh kebutuhan pangan warga kota sehingga mengurangi beban transportasi angkutan makanan. Sebaliknya, seluruh sampah warga kota dapat memasok pupuk pertanian di sekeliling kota. Meskipun demikian, konsep ini tidak pernah terealisasi seluruhnya.
Konsep Howard tampaknya hanya mungkin diaplikasikan pada kota berskala kecil. Kota modern sulit mengadopsi konsep tersebut karena dimensi kota yang selalu membesar akibat berkembangnya aktivitas modern yang harus diakomodasi kota. Kota modern memerlukan berbagai bangunan dan infrastruktur.
Dengan dimensi yang besar, jarak tempuh warga ke kawasan tepi kota menjadi jauh dan bukan merupakan jarak tempuh pejalan kaki. Konsep garden city yang mengisyaratkan kawasan rural-tepian kota (countryside) sebagai bagian kehidupan warga kota menjadi sulit diwujudkan. Jarak pusat kota dengan tepian kota menjadi terlalu jauh.
Pemecahan tengah dalam penerapan garden city di London, misalnya, adalah memasukkan countryside ke dalam kota. Untuk itu diletakkan taman-taman di tengah kota yang dirancang sedemikian rupa menyerupai kawasan liar (wild life) di tengah kota.
Taman kota London berbeda dengan taman di banyak kota besar di dunia, seperti Monas Jakarta yang ditata dan dilindungi, di setiap sudut terpampang peringatan ”Jangan Menginjak Rumput”. Hyde Park, Regent’s Park, St James’s Park, dan lainnya di pusat kota London dirancang sehingga warga kota dapat merasakan kebebasan alam yang asri seakan mereka masuk ke dalam wilayah rural-tepi kota.
Konsep garden city Milton Keynes dipecahkan dengan cara berbeda. Kebutuhan taman alamiah di kawasan kota dijawab melalui area terbuka danau, sungai, dan kawasan hijau di beberapa lokasi di kota serta lapangan olahraga yang dirancang dan disebar di setiap unit hunian di seluruh kota.
Lapangan parkir juga dirancang dengan penanaman pohon sebanyak mungkin sehingga membentuk lingkungan hijau mirip taman. Sejuta pohon ditanam di sepanjang jalan raya kota untuk mengantisipasi karbon dioksida hasil buangan kendaraan bermotor di kota ini.
Hemat energi
Direncanakan dan mulai dibangun pada tahun 1967, kota hemat energi Milton Keynes menempati area sekitar 8.900 hektar dan dipersiapkan menampung sekitar 250.000 warga. Konsep dasar perencanaan Milton Keynes dititikberatkan pada pemecahan sirkulasi kendaraan bermotor.
Tidak seperti halnya kota satelit di seputar London, Milton Keynes menghindari pemusatan transportasi di bagian tertentu pusat kota. Dihindari munculnya ”jalan utama” kota seperti terjadi di hampir semua kota di dunia.
Jalan utama kota di mana pun cenderung menjadi pusat kegiatan dan pusat kemacetan kota. Jaringan jalan Milton Keynes dirangkai dengan pola grid berdimensi lebar untuk menghindari kemacetan. Jalan kota memiliki nilai dan karakter lebih kurang sama sehingga menghindari terjadinya konsentrasi kegiatan yang dapat menimbulkan konsentrasi lalu lintas dan akhirnya kemacetan.
Banyak kritik bermunculan menyatakan kota ini tidak memiliki karakter atau ciri khas. Kota dinilai hambar, tidak ada area penting sebagai pusat kota, tidak ada jalan utama kota sebagai pusat aktivitas warga sebagaimana umumnya kota lain di dunia. Semua tempat sama, senada, sewarna, dan semata-mata hanya untuk pemenuhan fungsi kota: efektivitas transportasi dan pergerakan manusia.
Pola jalan utama berbentuk grid dengan panjang sisi sekitar satu kilometer (km). Setiap grid akan dibagi menjadi grid-grid lebih kecil dengan lebar jalan lebih kecil, di mana grid kecil akan dibagi lagi menjadi grid lebih kecil sehingga dalam unit grid terkecil dimungkinkan warga berinteraksi sosial secara baik satu sama lain. Jalan kendaraan bermotor dipisah dengan jalur sepeda dan pejalan kaki.
Manusia dapat berjalan kaki atau bersepeda melintas kawasan pusat kota tanpa harus menyeberang jalan utama. Jalur pedestrian dan jalur sepeda diturunkan di bawah jalan ketika berpapasan dengan jalan raya sehingga tidak terjadi persilangan. Kota ini memiliki jalur pedestrian dan jalur sepeda sepanjang 250 km yang diberi warna merah, memungkinkan setiap warga berjalan kaki atau mengendarai sepeda ke setiap sudut kota dengan aman dan nyaman.
Dengan rancangan kota semacam ini, warga Milton Keynes didorong berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum, memungkinkan konsumsi energi kota dihemat signifikan.
Konsep penyediaan jalur pedestrian dan sepeda yang menerus di seluruh kota semacam Milton Keynes seharusnya dapat mengilhami perancangan kota Indonesia masa datang, paling tidak dalam rangka antisipasi kemacetan lalu lintas dan sekaligus penghematan energi kota.
PENULIS: Tri Harso Karyono Guru Besar Arsitektur Universitas Tarumanagara, Peneliti Utama di Balai Besar Teknologi Energi, Serpong.
 

Contoh Kota hemat Energi

Kota Hemat Energi


Kota Hijau Atau Kota Hemat Energi? Solusi Terhadap Global Warming

Global Warming (Pemanasan global) adalah permasalahan yang sedang kita hadapi di dunia saat ini. Dampaknya memberikan efek yang negatif pada bumi, dengan mulai mencairnya es di Kutub Utara, punahnya species hewan dan tumbuhan, juga berakibat pada memburuknya kesehatan manusia. Salah satu penyebabnya adalah pembakaran BBM (Bahan Bakar Minyak) yang merupakan konsumsi terbesar umat manusia di dunia yang dapat mengemisi CO2 dan memicu pemanasan bumi. Penggunaan BBM memang belum bisa tergantikan karena belum siapnya energi alternatif, sementara persediannya mulai menipis dan harganya yang melonjak tinggi.
Dari sekian banyak penggunaannya di seluruh belahan dunia, sebuah kota besar paling banyak konsumsinya dibandingkan dengan wilayah / daerah lain seperti pedesaan, suburbs dll. Bila dipersentasikan, kota memakan lebih dari 70 % energi. Saat ini memang di setiap perkotaan, masyarakatnya mulai disadarkan untuk peduli lingkungan. Sering kita dengar, seperti GO Green, Green City, Green Concept, Green Living, Green Development dan banyak slogan lainnya. Banyak juga diadakan event – event seperti tanam sejuta pohon, green concert, pembagian bibit tanaman gratis dll. Semuanya menyuarakan agar menjaga lingkungan kota tetap hijau.
Walaupun pada prakteknya akan ditemui berbagai kesulitan / hambatan karena banyaknya kepentingan dari berbagai pihak terutama dari sisi komersialitas. Banyak dibangunnya Apartemen, Office, Mal dan pusat perbelanjaan lainnya menunjukkan bahwa porsi hijau yang kita gembor - gemborkan itu tidak sebanding dengan hutan – hutan beton yang terus berdiri setiap tahunnya. Seharusnya, area hijau memiliki tempat yang lebih banyak dalam sebuah kota. Karena hanya pepohonan & tanaman hijau lah yang dapat mengurangi pembakaran BBM atau emisi CO2 di udara.
Dari uraian di atas mungkin dapat sedikit disimpulkan, kita belum bisa membentuk sebuah kota hijau untuk mengatasi global warming. Kita perlu memandang permasalahan tersebut dari sisi yang lain; Seperti dengan menghemat energi BBM ataupun menciptakan energi alternatif. Sehingga mengurangi pembakaran BBM di udara karena minimalnya penggunaan dan lebih menggunakan bahan bakar lain yang lebih ecofriendly atau bersahabat dengan lingkungan.
Jadi lebih tepat kita berusaha untuk membentuk sebuah kota hemat energi daripada sebuah kota hijau untuk mengatasi permasalahan global warming. Walaupun dalam kota hemat energi berupaya meminimalisasi penggunaan energi namun tidak akan mengganggu atau tetap bisa untuk penyelenggaraan aktifitas warga kota. Dalam setiap bagiannya dari sebuah kota, bisa kita ambil beberapa konsep atau strategi untuk membentuk kota hemat energi. Sebuah kota dibagi ke dalam sub - sub seperti warga kota itu sendiri, hunian / rumah tinggal, fasilitas perkotaan (sekolah, rumah sakit, kantor, bangunan publik dll.), transportasi atau akses dan ruang terbuka hijau. Untuk menciptakan konsep kota hemat energi maka perlu dijabarkan dan ditelusuri dari sub – sub kota tersebut di atas.
Pertama, hunian / tempat tinggal / perumahan; ada 3 aspek yang bisa kita ambil, yaitu : Akses masuk ke dalam perumahan. Fenomena yang sekarang terjadi di Indonesia, akses tersebut terlalu jauh ke dalam sehingga warganya harus menggunakan kendaraan bermotor yang tentunya pemborosan BBM sementara itu juga tidak adanya jalur pedestrian yang berselasar / beratap, sehingga warganya lebih memilih untuk menggunaan kendaraan umum. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan kembali dengan membuat akses yang lebih dekat ke dalam perumahan terutama perlu dipikirkan kembali bagi pemerintah maupun pengembang swasta yang membangun perumahan.
Aspek kedua, Orientasi bangunan perumahan. Kondisi perumahan yang ada sekarang, orientasi tidak terlalu diperhatikan. Dengan memperhatikan orientasi bangunan maka akan memaksimalkan perolehan sinar matahari ke dalam rumah dan akan lebih hemat energi karena tidak diperlukan cahaya lampu / listrik di siang hari. Yaitu dengan menghadapkan bangunan ke arah selatan, ruang utama menghadap selatan sementara ruang pendukung menghadap utara.
Aspek ketiga adalah penataan bangunan. Perencanaan yang baik dalam sebuah kompleks perumahan sangatlah diperlukan. Warga tidak perlu menggunakan kendaraan hanya untuk membeli kebutuhan rumah yang sangat jauh jaraknya. Oleh karena itu perlu dibuat fasilitas komersial ataupun toko yang jaraknya dekat dengan rumah yang memungkinkan untuk penghuninya berjalan kaki menuju ke sana.
Kedua, Fasilitas perkotaan yang berupa bangunan juga perlu diperhatikan agar dapat menghemat energi yaitu dengan membuat rancangan pasif dengan memperhatikan aspek – aspek sebagai berikut : orientasi bangunan utara – selatan, memanfaatkan cahaya matahari tidak langsung bagi penerangan ruang dalam bangunan, meminimalkan radiasi panas / cahaya matahari langsung dari plafon maupun dari luar bangunan, meminimalkan penggunaan elemen kaca pada bangunan tinggi, mengoptimalkan ventilasi silang (meminimkan penggunaan AC), mengurangi pelapisan permukaan tanah dengan material keras (aspal, beton, dsb.) untuk mengurangi pemanasan lingkungan sekitar bangunan dan beberapa aspek lainnya.
Bangunan hemat energi juga harus didesain sesuai dengan iklim lingkungan setempat, karena dari contoh yang sudah ada, banyak bangunan – bangunan di Indonesia yang banyak menggunakan elemen kaca yang sebenarnya sangat tidak cocok dengan iklim tropis dan dapat mengakibatkan efek rumah kaca yang juga salah satu faktor penyebab global warming. Selain itu, perlu juga disosialisasikan untuk bangunan – bangunan yang menggunakan energi alternatif / energi yang bisa diperbaharui seperti sel surya / cahaya matahari, energi angin atau energi biofuel.
Beberapa fasilitas penunjang dalam sebuah bangunan juga bisa dijadikan aspek hemat energi, seperti pemakaian lampu, eskalator, ataupun lift. Dengan teknologi saat ini, dapat memungkinkan untuk berhemat energi karena adanya sistem canggih yang mapu membuatnya menjadi otomatis. Sehingga akan bisa hidup atau hanya bisa dipakai bila ada sensor manusia yang berada di dalam atau yang sedang beraktifitas di dalam bangunan. Bila tidak terpakai, sistem tersebut akan otomatis mematikan penggunaannya.

Minggu, 27 November 2011

Apa sih pengertian dilatasi bangunan???2.apa aja model dilatasi bangunan???3.cara pemsangannya????


1. Pengertian dilatasi adalah sebuah sambungan/garis pada sebuah bangunan yang karena sesuatu hal memiliki sistim struktur berbeda. Yang gunanya untuk menghindari bencana alam. Seperti gempa, dll. hal ini sudah dilakukan oleh bangunan bangunan tradisional nenek moyang kita.

2. Misalkan ada bangunan yang mempunyai tingkat tekanan yang berbeda. Maka bangunan yang mendapat tekanan yang rendah akan berbeda strukturnya dengan bangunan yang mempunyai tekanan yang lebih tinggi. Walaupun dalam satu gedung, misalkan yang bertingkat, maka tingkatan lebih rendah memiliki struktur yang lebih kuat.

Misalkan ada struktur tanah yang lemah dan yang kuat dalam satu rencana bangunan, maka pondasi akan dubuat dengan sesuai dengan struktur tanah tersebut. 


3. Dalam satu komplek, misalkan deretan Ruko. Proses dilatasi dilakukan dengan membuat struktur bangunan tidak memakai satu dinding sebagai pemisah. Jadi bangunan yang satu memakai dinding sendiri dan bangunan sampingnya makai dinding sendiri. Sehingga walaupun terlihat menyatu sebenarnya terpisah.
Ini dilakukan untuk mengurangi efek samping dari bencana gempa.

Anda ingat dengan menara kembar yang terkena serangan teroris, yang terkenal dengan bencana 9/11 di amerika?
Dalam tayangan yang sempat direkam, terlihat bangunan rubuh setahap demi setahap. Karena proses dilatasi tersebut yang memisahkan struktur antar lantai. Walaupun terlihat menyatu tetapi terpisah. Dan kerusakan akan terjadi sesuai tahapan struktur tersebut. Dalam hal gedung kembar itu dari atas ke bawah.

Bayangkan jika bangunan menyatu tanpa proses dilatasi, bisa seperti pohon besar roboh dan menimpa pohon lainnya.
4. Dilatasi biasanya merujuk pada sebuah garis pada sebuah bangunan yang karena sesuatu hal memiliki sistim struktur berbeda.

Gunanya untuk menghindari retak-retak bila ada gempa.

Bisa karena perbedaan ketinggian, bisa karena perbedaan sistim pondasi karena perbedaan kedalaman tanah keras.

Perbedaan ketinggian misalnya di gedung tinggi kan ada tower dan ada podium (yang biasanya jadi lobby), nah antara tower dan podium harus beda sistem strukturnya karena kan bebannya beda.

Pada saat gempa, baik lobby maupun tower akan bergoyang sesuai dengan frekuensi naturalnya sendiri-sendiri yang berbeda karena perbedaan ketinggian. Kalau tidak pakai siar dilatasi akan ada retakan.

Sedangkan perbedaan kedalaman tanah keras misalnya ada suatu bangunan yang memanjang. Setelah dicek ternyata terdapat kedalaman tanah keras yang berbeda. Misalnya ada yang 10 meter ada yang 20 meter. Contoh lainnya adalah kalau kontur tanahnya miring seperti di daerah berbukit misalnya.

Nah dilatasi digunakan untuk memisahkan kedua bagian ini. Tapi bangunannya sih tidak terlihat terpisah. Kalau tidak dipisahkan, apabila ada penurunan tanah, akan terjadi retakan di dinding bangunan.

Siar dilatasi tidak hanya dipakai untuk kolom saja tapi juga bisa dilantai.

Minggu, 20 November 2011

Profil Arsitek Terkenal Di Dunia



Philip Cortelyou Johnson atau lebih dikenal dengan nama Philip Johnson adalah salah satu arsitek dari Amerika yang sangat berpengaruh dalam dunia Arsitektur. Dengan kacamatanya yang tebal, berbingkai bundar, Philip Johnson adalah tokoh yang paling dikenal di dunia arsitektur Amerika selama beberapa dekade.

Philip Johnson (8 Juli 1906 - 25 Januari 2005) lahir di Cleveland, Ohio. Pada awalnya, Philip Johnson bukanlah seorang arsitek, dia bekerja sebagai kritikus, penulis, sejarawan dan seorang direktur museum. Dia meraih gelar A.B. dalam sejarah arsitektur dari Universitas Harvard yang tertarik pada Sejarah dan Filsafat, terutama pada karya Pra-Sokrates.

Pada tahun 1949, setelah beberapa tahun sebagai direktur utama Museum of Modern Art di Departemen Arsitektur, dia merancang rumah tinggal untuk dirinya di New Canaan, Conecticut untuk tesis meraih gelar masternya. Rumah tinggal tersebut sekarang lebih dikenal dengan nama Glass House.

Pada tahun 1928, Philip Johnson bertemu dengan arsitek Ludwig Mies van der Rohe, yang pada saat itu sedang merancang German Pavilion untuk Barcelona Internasional Exposition 1929. Pertemuan dengan Ludwig Mies van der Rohe inilah yang akhirnya membuat jalan Philip Johnson dalam dunia arsitektur. Pada awalnya bahkan Philip Johnson pernah menugaskan Ludwig Mies van der Rohe untuk mendesain apartemennya di New York. Kemudian dia berkolaborasi dengan Mies mendesain bangunan tinggi terbaik yakni Gedung Seagram, New York.

Pada tahun 50an merevisi pandangan sebelumnya, yang mencapai puncaknya sebagai salah satu bangunan yang paling kontroversial dalam karirnya, yakni Kantor Pusat AT & T di New York dengan apa yang disebut dengan "Chippendale"

Philip Johnson bergabung dengan John Burgee dari tahun 1967 sampai 1987. Dalam 20 tahun ini tidak ada karya yang fenomenal. Tahun 1989, Philip Johnson lebih banyak mengabdikan waktunya untuk proyek-proyeknya sendiri, walaupun dia masih semi-pensiun dari John Burgee Architects. Desain yang paling terakhir adalah untuk Sekolah Seni Rupa Seton Hill College di Greensburg, Pennsylvania.

Beberapa karya dari Philip Johnson adalah:
  • Johnson House at Cambridge, "The Arch Street House", Cambridge, Massachusetts (1942–1943)
  • Booth (Damora) House, "The Booth House", Bedford Village, New York (1946)
  • Johnson House, "The Glass House", New Canaan, Connecticut (1949)
  • John de Menil House, Houston, Texas (1950)
  • Rockefeller Guest House for Abby Aldrich Rockefeller, New York City, New York (1950)
  • Seagram Building, New York City, New York (in collaboration with Mies van der Rohe; 1956)
  • The Four Seasons Restaurant, New York City, New York (1959)
  • Expansion of St. Anselm's Abbey, Washington, D.C. (1960)
  • Museum of Art at Munson-Williams-Proctor Arts Institute, Utica, New York (1960)
  • Abby Aldrich Rockefeller Sculpture Garden at The Museum of Modern Art, New York City, New York
  • Sheldon Museum of Art, Lincoln, Nebraska (1963)
  • New York State Theater (renamed David H. Koch Theater) at Lincoln Center, New York City, New York (with Richard Foster; 1964)
  • Amon Carter Museum, Fort Worth, Texas (1961; also expansion in 2001)
  • New York State Pavilion for the 1964 New York World's Fair, New York City, New York (1964)
  • Kreeger Museum, Washington, D.C. (with Richard Foster; 1967)
  • Main campus mall at the University of Saint Thomas, Houston, Texas
  • Elmer Holmes Bobst Library at New York University, New York City, New York (1967–1973)
  • John Fitzgerald Kennedy Memorial, Dallas, Texas (1970)[6]
  • IDS Center, Minneapolis, Minnesota (1972)
  • Art Museum of South Texas, Corpus Christi, Texas (1972)
  • Johnson Building at the Boston Public Library, Boston, Massachusetts (1973)
  • Fort Worth Water Gardens, Fort Worth, Texas (1974)
  • Pennzoil Place, Houston, Texas (1975)
  • Dorothy and Dexter Baker Center for the Arts at Muhlenberg College, Allentown, Pennsylvania (1976)
  • Thanks-Giving Square, Dallas, Texas (1976)
  • 101 California Street, San Francisco, California (Johnson/Burgee Architects; 1979–1982)
  • Neuberger Museum of Art at the State University of New York at Purchase, Purchase, New York
  • Crystal Cathedral, Garden Grove, California (1980)
  • Tata Theatre, National Centre for the Performing Arts, Mumbai, India (1980)
  • Metro-Dade Cultural Center, Miami, Florida (1982)
  • Chapel of St. Basil and the Academic Mall at the University of St. Thomas, Houston, Texas
  • Republic Bank Center (renamed Bank of America Center), Houston, Texas (1983)
  • Transco Tower (renamed Williams Tower), Houston, Texas (1983)
  • Cleveland Play House, Cleveland, Ohio (extension; 1983)
  • Wells Fargo Center, Denver, Colorado (1983)
  • PPG Place, Pittsburgh, Pennsylvania (1984)
  • The Gerald D. Hines College of Architecture, University of Houston, Houston, Texas (1985)
  • Lipstick Building, New York City, New York (1986)
  • Comerica Bank Tower, Dallas, Texas (1987)
  • 190 South LaSalle Street, Chicago, Illinois (John Burgee Architects, Philip Johnson Consultant; 1987)
  • Gate of Europe, Madrid, Spain (John Burgee Architects, Philip Johnson Consultant; 1989–1996)
  • 191 Peachtree Tower, Atlanta, Georgia (John Burgee Architects, Philip Johnson Consultant; 1990)
  • The Museum of Television & Radio (renamed Paley Center for Media), New York City, New York (1991)
  • Chapel of St. Basil at the University of St. Thomas, Houston, Texas (with John Manley, Architect; 1992)
  • Science and Engineering Library at Ohio State University, Columbus, Ohio (1992)
  • AEGON Center, Louisville, Kentucky (John Burgee Architects, Philip Johnson Consultant; 1993)
  • One Detroit Center, Detroit, Michigan (John Burgee Architects, Philip Johnson Consultant; 1993)
  • Visitor's Pavilion, New Canaan, Connecticut (1994)
  • Turning Point at Case Western Reserve University, Cleveland, Ohio (1996)
  • Philip-Johnson-Haus, Berlin, Germany (1997)
  • First Union Plaza, Boca Raton, Florida (2000)
  • Interfaith Peace Chapel on the Cathedral of Hope campus, Dallas, Texas (2010)























Kengo Kuma lahir di Kanagawa, Jepang. Setelah menyelesaikan studi di bidang arsitektur di University of Tokyo pada tahun 1979, dia bekerja di Nihon Sekkei dan TODA Corporation. Kengo Kuma kemudian melanjutkan studinya di Columbia University dari tahun 1985 - 1986. Pada tahun 1990 dia mendirikan sebuah konsultan arsitektur bernama "Kengo Kuma & Associates". Pada tahun 2008, Kengo Kuma meraih gelar Ph.D dari Keio University, dan dia sekarang menjadi seorang Guru Besar di Keio University. Tujuan utama dari Kengo Kuma adalah "untuk mengembalikan bentuk bangunan tradisional Jepang" dan bisa berinterpretasi dengan abad 21.

Pernyataan yang paling dikenal dari Kengo Kuma adalah "my ulitimate aim is to "erase" architecture, because i believe that a building should become one with its surroundings. This is how i have always felt; this is how i will continue to feel. how, then, can architecture be made to disappear?". Dalam pernyataannya tersebut dia menyatakan bahwa karya arsitekturnya akan selalu menjadi satu dengan lingkungan.

Beberapa karya yang telah dihasilkan oleh Kengo Kuma adalah:
  • M2 Building (1989 - 1991)
  • Kiro-San observatory (1994)
  • Water/Glass (1995)
  • River/Fileter (1996)
  • Noh Stage In The Forest (1996)
  • Memorial Park (1997)
  • Kitakami Canal Museum (1999)
  • Stone Museum (2000)
  • Museum of Ando Hiroshige (2000)
  • Takayanagi Community Center (2000)
  • Nasu History Museum (2000)
  • Takasaki Parking Building (2001)
  • Ginzan Onsen Hot Spring Bath House (2001)
  • Plastic House (2002)
  • Great (Bamboo) Wall House, Beijing (2002)
  • Baiso-In Temple (2003)
  • Paint House Building (2003)
  • Forest/FLoor (2003)
  • Soba Restaurant at Togakushi Shrine (2003)
  • Horai Onsen Bath House (2003)
  • Shibuya Station, Facade Renovation (2003)
  • One Omotesando (2003)
  • LVMH Group Japan headquarters (2003)
  • Masanari Murai Art Museum (2004)
  • Shinonome Apartment Building (2004)
  • Suntory's Tokyo office building
  • Kodan Apartments (2005)
  • Water Block House (2007)


Referensi :
  • Botond, Bognar, Kengo Kuma Selected Works, New York, Princeton Architectural Press, 2005